Skip to main content

My Opinion for Natuna Conflict


Hello .. let me introduce my self. My name is silki

So for this time, I want to share my opinion about conflict which is still being debated between Indonesia and China in Natuna sea. Based on information that I read before, the problem in Natuna sea has a lot of history. Starting from 2016 until 2019, the newest conflict is about a number of foreign fishing vessels owned by China enter to Natuna sea, Riau Islands. These activities violate the Exclusive economic zone and carry out illegal, unreported and unregulated fishing activities.

In my opinion this problem must be followed up. Previously, Indonesia itself had taken firm steps to follow up on the violation. But apparently, there are still happening and this time the violator has a certain reason that makes him feel free to pass through our area without worrying about breaking existing regulations.

Our regulations regarding border areas are good and strict. Supporters and files regarding the regulation also exist. So, if we just showing it to the recalcitrant "offender" is not effective. In addition, if you just give a warning letter, it will also be ignored. We need some meeting for two parties led by a neutral body to discuss the issues related to this as well as the establishment of real and clear regulations so that no more parties are disadvantaged. The stipulation may be in the form of a declaration or the signing of a regulation which has been agreed by both parties.
And for Indonesian government, we must still warn about this problem. resolve this case thoroughly because it is a pity if we have clear regulations but inferior to the defense with unclear basis. Do not let what has been fought by previous people to be in vain.




Comments

Popular posts from this blog

Sharing session with my mentor, Yoppy Pieter #8

 Helloww.. welcome to my blog.... Jadi, sekarang saya memasuki sharing session terakhir dengan mentor saya, Yoppy Pieter. Jadi pada tanggal 1 Mei 2021 saya melakukan meet bareng mas Yoppy. Di meet itu, mas Yoppy menunjukkan foto-foto yang sudah diseleksi lagi. Totalnya ada 14 foto yang sudah diseleksi oleh mas Yoppy. Dari situ mas Yoppy bertanya apakah ada foto lain lagi yang ingin saya tambahkan? lalu saya menunjukkan 2 file foto yang menurut saya perlu untuk dimasukkan demi melengkapi photostory saya. Jadi, total keseluruhan foto yang digunakan adalah 16 foto. Selanjutnya, foto-foto itu diurutkan berdasarkan kerangka cerita. Untuk urutan kerangka ceritanya adalah sebagai berikut : 1. Pembuka (Kehidupan di laut) 2. Industri kerang (mempertegas kalau mereka nelayan kerang hijau, traksaksi, pembersih) 3. Penangkapan dan isu (Cara menangkap) 4. Kehidupan pesisir Foto-foto tersebut kemudian di edit di Adobe Lightroom agar "mood" dari gambar itu terlihat sesuai dengan photostory ...

Sharing session with my mentor, Yoppy Pieter #6

 Hallooo guysss.. welcome to my blog again :)) Wah sudah masuk sharing session ke 6 ya gak kerasa :')... Jadi setelah ngeupload foto-foto hasil hunting kemarin,, selanjutnya dari mas Yoppy menyeleksi foto-foto yang saya dapatkan sesuai dengan project yang sudah ditentukan. Dari total keseluruhan ada 275 foto yang saya ambil, namun hanya 24 foto yang dipilih mas Yoppy.. Lalu, mas Yoppy menyampaikan bahwa ada beberapa foto lagi yang harus saya ambil diantaranya sebagai berikut : 1. Kehidupan nelayan sehari-hari 2. Cara nelayan ini bersosialisasi 3. Kehidupan nelayan dirumahnya 4. Nelayan ketika sedang makan 5. Nelayan ketika sedang tidur 6. Nelayan ketika bangun tidur 7. Kondisi sungai yang mengalirkan polusi 8. Aktivitas pengupasan kerang Menurut mas yoppy, foto-foto saya masih banyak yang terlalu candid. Foto tersebut masih menunjukkan kalau saya masih menjaga jarak dengan subyek yang saya incar. Ia berpesan kalau saya harus menjadi bagian dari mereka. Saya tidak boleh memandang pr...

Cerita Kehidupan Nelayan di Cilincing

Ini merupakan kisah kehidupan nelayan kerang hijau di pesisir DKI Jakarta, tepatnya di Cilincing, Jakarta Utara. Untuk mengakses wilayah ini, terutama untuk saya yang berasal dari Bogor, bisa menggunakan KRL dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Jakarta Kota. Selanjutnya, menggunakan KRL lagi dari Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Tanjung Priuk. Ketika keluar stasiun, sudah mulai ada terlihat suasana-suasana pelabuhan yang dilewati oleh kendaraan-kendaraan berat, dengan jalan raya yang cukup besar dan aroma asin dari laut jakarta. Dari situ, dapat menggunakan ojek online untuk menuju Cilincing, kira-kira 20 menit dari Stasiun Tanjung Priuk. Selama perjalanan, kalian akan melewati fly over, dari jalanan yang besar hingga ke suatu gang dengan jalan yang kecil dan kita hanya bisa mengaksesnya dengan jalan kaki. Yap, selamat datang di Cilincing. Plang didepan gang sudah dapat diihat tulisannya “Kampung Kerang Hijau”. Disitu saya bertemu dengan bang Ilyas yang akan menemani saya untuk melih...